Jakarta

Saturday, March 21, 2020

PLEVA

Pleva? Apa itu? Pasti itu yang selalu ditanyakan orang lain padaku saat ku sebut kata itu.

Sama hal nya dengan ku, saat dokter mengatakan penyakit ku.

Pleva, Pytiriasis Lychenoides Ef Varioliformis Acuta adalah penyakit kulit yang belum diketahui apa penyebab pastinya, dugaan sementara adalah penyakit genetika yg berkaitan dengan darah.

Hanya 0,1% dari populasi penduduk dunia yang menderita Pleva. Dan lebih banyak diderita oleh Pria. Maka dari itu kita banyak yang tidak mengetahui tentang Pleva ini, karena memang jarang penderita nya.

Ya, aku terkena Pleva. Aku orang yang dipilih oleh Allah SWT, dari sekian banyak orang, dan biasanya pria yg menderita penyakit ini, sedangkan aku wanita. Bagaimana itu tidak menunjukan bahwa aku orang pilihan Allah SWT untuk menerima Pleva ini.
Aku yakin Allah SWT pasti sedang menunjukan Hikmah baikNya pada diriku, Aamiin.

Sekarang, aku mau cerita awal mula aku bisa terkena Pleva ya.

Awalnya pada 6 Febuari lalu, aku cek ke seorang dokter spesialis kulit di sebuah RS dekat rumah, karena ada bercak merah di tubuh ku, disertai gatal dan badan yang tidak enak. Tidak demam tinggi, hanya seperti gejala flu, badan greges dan sedikit pusing.

Lalu dokter mengatakan aku kena cacar, untuk ketiga kalinya, krn saat masih kecil dan SMA saya sdh terkena cacar. Ajaib ya..kena cacar sampai 3x, itu yang aku dan orang2 bilang.
Lalu dokter memberikan aku obat untuk cacar.
Dan harus istirahat di rumah selama 2 minggu, agar tidak menularkan kepada orang lain.

Setelah 2 minggu, aku merasa tidak ada progress baik, malahan tambah banyak, hampir menutupi seluruh tubuhku. 
Lalu aku cek up lagi, dan dokter bilang yg baru muncul bukan cacar, tp tidak di info apa2 lagi, dan tidak di kasih obat.

1 minggu berikutnya, aku putuskan untuk cek ke dokter spesialis kulit di RS yang berbeda. Karena sdh 3 minggu tdk ada perubahan atas kulitku. Aku merasa makin gatal yang parah, yang rasanya sampai clekit clekit spt di gigit semut. Dan itu membuat aku tidak bisa tidur setiap malam.

Nah di RS inilah dokter bilang aku terkena Pleva.
Pleva menyerang seluruh tubuhku kecuali wajah (Alhamdulillah).
Bentuk nya kecil-kecil, merah, tp tidak ada air di dalamnya.
Muncul di kulit menyebar menutupi seluruh kulit, berdekatan, tidak jarang jarang. Gatal sekali sampai clekit" spt di gigit semut.

Setelah pindah RS, Alhamdulillah ada progress, 1x minum obat, seluruh tubuh gatal dan clekit2 hebat, tp hanya 2 hari, selanjutnya langsung menuju kering. Aku di kasih obat Hexilon dan Deslotin. Obat itu utk meredakan alergi gatalnya, karena mmg tdk diketahui penyebab nya, jd hanya di berikan obat utk meredamnya. Mandi tidak boleh pake sabun Antiseptik, aku diminta menggunakan sabun yang memiliki kelembapan tinggi, Aku diminta menggunakan Sebamed Cleansing Bar, dan untuk Lotion nya menggunakan Noroid Lotion. Kulit ku diminta harus selalu lembab, saat ini dokter juga meresepkan Ceradan Cream.

Hari ini, saat aku menulis blog ini tgl 21 Maret 2020, sudah 6 minggu aku menderita Pleva, Alhamdulillah sudah banyak yg mulai kering dan rontok. Kulit di tubuh pun sdh ada yang kembali halus, walau memang ada bekas nya. Bagian kaki dan tangan yg memang muncul nya belakangan masuk ada yg belum kering, walau ada beberapa yang sudah kering dan rontok juga. Di bagian kaki dan tangan, ada yang baru muncul merah kecil.

Dokter bilang, memang butuh kesabaran utk penyembuhan, tp harus punya positive mind, dan yakin pasti bisa sembuh. Karena dengan keyakinan itu pasti akan sembuh.
Dan sewaktu waktu bisa kambuh (semoga tidak denganku, Aamiin), tp tidak sebanyak yang aku derita sekarang.

Aku juga sempat diminta cek darah, utk mengetahui ada kelainan darah atau tidak. Alhamdulillah hasil tes darah menunjukan tdk ada kelainan darah, setelah berkonsultasi dengan dokter Internis. Minggu depan aku diminta tes lab lagi utk mengecek AutoImun ku, semoga hasil nya juga negative ya, Aamiin.

Jadi selain dokter spesialis kulit, aku juga ditangani oleh dokter Internis. Nah dari dokter Internis lah, aku mengetahui, bahwa penggunaan obat Hexilon jangka panjang akan menyebabkan gula darah naik dan pengeroposan tulang. Karena aku sudah 3 minggu minum Hexilon, akhirnya dokter memberiku Vitamin untuk meredam pengeroposan tulang.
Pantas aja nafsu makan ku meningkat, dan pipi ku jadi tembem hehehe.

Setelah tau efek sampingnya, aku jadi bisa akalin dengan makan buah saja jika lapar diluar jam makan, dan banyak minum air putih.

Nah Alhamdulillah lagi, aku bisa barengin dengan puasa sunah Senin Kamis, karena tidak ada lagi obat yg harus diminum 3x sehari. Hexilon sdh di turunin dokter dosis nya menjadi 1x sehari. Cek up juga sdh jadi 2 minggu sekali, dari semula 1 minggu sekali.

Bismillah... pasti aku cepat sembuh, karena dengan ketentuan Allah SWT lah aku terkena Pleva ini, dan dengan ketentuan Allah SWT juga penyakit ku ini akan sembuh. Semoga Allah SWT mengampuni dosa ku dan meridhoi ikhtiar pengobatan yang sedang aku jalani ini, Aamiin.

Buat teman teman yang mengalami Pleva seperti aku ini, kita harus semangat ya, jangan terlalu dipikirin penyakitnya.

Aku izin Work From Home ke kantor, tiap hari aku bekerja seperti aku di kantor, walau harus dasteran hehehe, karena tidak nyaman menggunakan pakaian ketat. 

Aku tetap bekerja sebagai pengalihan pikiran, agar tidak mikirin penyakit.
Aku juga tidak mau selalu melihat keadaan kulitku, biarin aja seolah olah kulit badan ku tidak ada bercak2 nya.
Aku gak mau selalu nungguin kapan kulit ku akan kembali seperti sediakala. Takut nya nanti aku stress. Sedangkan stress itu harus dihindari agar penyembuhan jadi lebih cepat.

Nah segitu dulu ya sedikit cerita tentang Pleva. Nanti aku update lagi perkembangan tes lab OutoImun ku. 
Mohon doa nya ya, semoga hasil nya negative, Aamiin...

Salam,
YS





No comments:

Post a Comment